Rabu, 02 Maret 2016

Embun di Tengah Malam



Kapan kamu bisa menyaksikan titik embun yang bergelayutan pada ujung daun? Atau sekadar merasakan dinginnya embun yang berubah menjadi uap?

Pagi hari? Pukul 04.00 WIB?

Tapi kali ini berbeda. Embun datang di tengah malamku. Saat aku sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantor, tiba-tiba ponselku berbunyi. Tanda sebuah message diterima. Kubuka kunci layar ponselku. Ternyata pesan dari kamu.

“Apa arti embun bagi kamu?”

Aku berpikir, ada apa? Beberapa detik kemudian, kita telah hanyut pada perdebatan ringan. Tidak seperti perdebatan para petinggi di negri ini. Soal embun yang kita debatkan. Sesederhana itu yang kita debatkan tengah malam tadi.

“Apakah seseorang bisa menjauh dari embun?”

1 jam kemudian. 2 jam kemudian. Dan entah berapa jam kemudian, yang jelas kulihat telah pukul 01.03 WIB.

Hanya soal embun yang kita perdebatkan malam ini? Mengapa kita tidak memperdebatkan yang lebih penting. Perdebatan untuk mengatasi banjir, misalkan. Ramai sekali acara berita mengabarkan soal banjir. Kenapa kita tidak memperdebatkan hal itu? Kenapa harus embun?

Mungkin kita telah hilang sadar bahwa baru saja kita menghabiskan waktu untuk memperdebatkan soal embun. Sederhana. Harusnya kita memperdebatkan hal yang lebih penting dari sekedar embun, agar tak saling membuang waktu.

Aku tanya apakah kamu mencintai embun? Kamu jawab tidak. Lalu, sebab apa kamu mengajakku memperdebatkan soal embun di tengah malam begini?

Kamu menjawab:
“Sebab rindu yang menyerupai rindunya embun kepada daun.”

Pesanku setelah itu:
“Nikmati saja”



Surabaya, 2 Maret 2016


Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

2 komentar: