Jumat, 05 Februari 2016

Apa Hak Ku? Selain Merindu Kamu



Surabaya, 5 Januari 2016

Hay, apa kabarmu ?
Sengaja aku kirim surat ini untukmu, sekedar pelipur rasa rindu yang kian membeku. Semoga aku tak mengganggu, dan jika itu benar mengganggu, kamu bisa meremas surat ini, lalu melemparkannya pada tong sampah di pojok kamarmu. Aku juga tak akan tahu jika kau memilih untuk lakukan itu.

Kemarin, aku melihat se-ekor burung dengan sayap terluka karena bidikan peluru sang pemburu. Lalu, burung itu hanya merintih kesakitan diatas dahan bersama sang ibu. Burung itu tak bisa lagi mengepakkan sayap untuk pindah ke dahan yang lain, sayapnya telah patah. Seandainya kamu sadar dengan keadaanku, aku juga sama seperti burung itu. Kepergianmu, bagaikan busur yang menancap di sekujur tubuhku. Itulah alasanku, mengapa hingga kini aku tak bisa terbang untuk pindah ke dahan yang baru.

Asal kamu tahu, sebab rindu aku mengingat semua masa lalu antara aku dan kamu. Dan sebab masa lalu, membuatku ragu untuk melangkah maju. Bayangmu, selalu datang menancap di kalbu. Dan di tempat yang sama ini, aku terpaku menunggumu, itulah yang membuat jatuhnya air mataku. Perlahan, bayangmu semakin menyeramkan, menakutkan, lalu merobek hatiku. Sungguh aku menjerit kesakitan menahan pilu!

Semenjak kamu pergi tinggalkanku, kini aku bagai sebongkah kayu yang terbakar lalu hangus menjadi abu, kemudian terbang dibawa angin yang beradu. Serupa dengan debu; berbutir, hancur, dan tak berupa, itulah aku yang tanpamu. Bagaimana kamu akan tahu, jika matamu selalu ditutup saat akan memandangku?

Entah…
Aku tak menduga jika ternyata kisah kita menjadi kenangan abu-abu, pahit saat dirasakan, tetapi pelik saat aku mencoba untuk berlalu. Sungguh, perasaan ini ambigu. Andai saja dulu engkau tak memilih untuk berlalu, mungkin hati ini tetap biru, tenang, dan tanpa ombak yang beradu.

Sesalku, karena tak bisa menahan langkamu untuk tetap disampingku, dan menggenggam tanganku. Aku tahu, bahwa pertemuan akan selalu bermuara pada perpisahan, itu yang selalu dikatakan oleh orang terdahulu. Dan andainya aku diberi kesempatan untuk mengulur waktu, akan aku ulur pepisahan kita dulu. Agar aku dan kamu, lebih lama untuk tetap jadi satu.

Sungguh, aku tak ingin tetap bertahan dalam belenggu rindu dan kenangan masa lalu. Tapi entah kenapa, kini aku membiarkan ia membelukar dan menjalar di semak hati, hingga akhirnya aku berusaha menunggumu untuk mencabut akarnya, karena aku tak lagi mampu. Adakah uluran tanganmu yang masih sudi untuk menegakkanku ?

Hingga kini untukmu, aku tetap bertahan disini, meski sendiri melawan sepi dalam ketakutan, aku berharap engkau kembali padaku dan menggenggam tanganku, lalu menuntunku yang tengah buta pada kehidupan yang baru, saat bersamamu. Kumohon, lakukan itu!

Maaf, sebab kerinduanku aku berbuat lancang telah mengirim surat ini untukmu. Sungguh karena aku rindu, dan tak tahu harus berteriak pada siapa untuk mengobati rinduku. Sungguh karena aku ingin berkata untukmu, hingga kini aku masih mencintaimu.

Aku: Pecandu Rindumu




Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

3 komentar: