Kamis, 14 Januari 2016

Gitu Aja Kok Ngambek…?

Pagi buta sekali, kotaku diguyur hujan deras. Berselang beberapa menit kemudian, adzan Subuh berkumandang. Aku hafal dengan suara muadzin itu. Alarm di ponselku juga berdering. Tak lama kemudian, suara panggilan terdengar dari ponselku yang satunya lagi. Aku terjaga. Tubuh terasa begitu dingin sampai menggigil. Hujan semakin deras.

Setelah sholat subuh, aku berencana membuka laptop dan menyelesaikan bahan presentasiku untuk menjadi pembicara pada seminar di salah satu SMP di Madura tiga hari lagi. Setelah dicoba berkali-kali, laptopku gagal booting. Akhirnya aku cabut batrenya dan aku biarkan beberapa menit. Sambil menunggu, lalu aku ambil ponselku dan membuka aplikasi BBM. Aku update status; “Selamat bersapa dengan pagi…” Setelah itu aku buka Recent Updates (RU).

Ada sebuah status yang menarik sekali, status itu mengatakan begini; “Sekuat dan sesabar apapun hati seseorang, akan merasa kecewa jika usahanya gagal. Apalagi usahanya tidak dihargai ! 4 hour ago.”

Inspirasi, Motivasi


Aku mencoba memaknai arti status tersebut. Aku mulai bertanya pada diri sendiri dan ada tiga pertanyaan besar yang semakin membuatku penasaran; “Siapakah yang sedang kecewa, apakah dirinya?” “Sedang kecewa pada siapa orang ini?” dan “Usaha besar apa yang telah ia lakukan sampai tak dihargai?”

Akhirnya, daripada nebak-nebak gak jelas, sekarang aku tidak lagi menghiraukan apa usaha dia, kecewa pada siapa dan tidak dihargai oleh siapa, justru aku menemukan sesuatu untuk menuliskan ini dan membaginya kepada teman-teman semua. Laptop sudah normal kembali, lalu aku mulai menulis.

Yang bisa kita sepakati dari status tersebut adalah, semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, dan itu wajar. Tapi, masak gitu aja ngambek?

Salah satu tujuan adanya kegagalan adalah untuk melatih kesabaranmu. Jadi, kita boleh untuk tidak sepakat dengan status tadi yang mengatakan bahwa, sesabar-sabarnya orang akan merasa kecewa jika mengalami kegagalan. Padahal, orang yang sabar tidak pernah merasa kecewa. Yang perlu kita sampaikan pada orang itu adalah, “Jangan ngambek, ya... Tuhan sedang melatih kesabaranmu.”

Sebenarnya, rasa kecewa itu tidak akan muncul dalam masa kegagalan seseorang jika orang tersebut telah berusaha semaksimal mungkin sebelum memulai pekerjaannya. Justru, orang yang merasa kecewa adalah mereka yang tidak berusaha dengan maksimal hingga akhirnya setelah mengalami kegagalan, mereka akan merasa menyesal lalu kecewa. Kalau begitu, ketika kita merasa kecewa atas hasil yang kita peroleh, orang yang pertama kali harus dievaluasi dan ditanya adalah diri sendiri, “Kemarin, seberapa besar persiapanku, ya?”

Dan yang perlu diingat di awal sebelum melakukan sebuah pekerjaan adalah, bahwa usaha dan persiapan besar yang sudah kamu persiapkan tersebut bukan jaminan akan bisa menjalankan pekerjaanmu itu dengan sukses dan berbuah hasil yang manis saat itu juga. Jika kamu belum berhasil saat ini, maka kamu akan berhasil besok. Yang jelas, apa yang kamu kerjakan tersebut akan berbuah sesuai usaha yang kamu lakukan, hanya belum tahu kapan waktu pastinya. Sebenarnya, setiap orang telah mampu memprediksikan kapan dirinya akan berhasil atas pekerjaannya, kalau tidak hari ini, ya besok. Hanya ada dua kemungkinan; hari ini atau besok.

Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan. Chairul Tanjung.

Ibartkanlah saat ini kamu sedang mengikuti lomba balap karung.
Kita sadar bahwa jarak tempuh untuk sampai pada finish itu dekat sekali, hanya saja karena kita tidak sedang berjalan normal melainkan memakai karung, sehingga  membuat kita sering jatuh dan untuk sampai pada finish-pun terasa lama. Tetapi akibat jatuh tersebut, kita menjadi tahu bagaimana berjalan dengan memakai karung agar tidak jatuh. Kita akan tahu caranya. Terlebih saat kita jatuh, kemudian ada lawan yang mendahului kita, maka secara otomatis ada semangat yang lebih untuk mengejar ketertinggalan itu dan berusaha untuk menjadi orang pertama yang sampai di finish.

Artinya adalah, kegagalan telah memberitahu letak kesalahanmu untuk diperbaiki, dan kegagalan pula yang telah membangkitkan semangatmu.

Sama halnya dengan perjalanan kesuksesanmu saat ini. Kamu adalah peserta lomba balap karung itu. Dan karung adalah hambatanmu. Sepanjang perjalananmu, kamu akan mengalami beberapa kali jatuh (gagal). Bedanya adalah, kamu tidak tahu letak finishnya dimana sehingga kamu menganggap lintasan yang kamu lewati sangat jauh, padahal lintasanmu untuk menuju finish dekat sekali.

Mungkin kalian tidak sadar, bahwa mengabaikan kesempatan yang Tuhan berikan kepadamu sama halnya dengan memperpanjang lintasan kesuksesanmu sendiri. Semakin sering mengabaikan kesempatan itu, maka kamu akan semakin jauh dengan finish-mu. Saat seperti itu, apakah Tuhan yang kamu salahkan?

Haydar Iskandar


Percayalah, sukses ada di depanmu dan kamu akan segera mencapainya jika kamu menikmati proses yang telah Tuhan persembahkan untukmu. Jika mengalami kegagalan, berarti ada cara yang salah, maka perbaiki. Setelah itu ulangi, tetapi jika kamu berhenti, maka jangan harap akan menjadi pemenang sejati.


Banyak sekali tokoh-tokoh hebat di dunia ini yang mengawali keberhasilannya dengan jatuh berkali-kalipuluhan kali bahkan ratusan kali. Sedang kamu, yang baru mencoba sekali dan gagal sekali sudah ngambek? Percayalah, ngambekmu itu tidak akan membawa perubahan yang baik pada dirimu. So, bangkitlah karena perjalananmu baru saja dimulai!


Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar