Jumat, 22 Mei 2015

Ku Beralih pada cinta-Nya

gobloghaydar.blospot.com


****
  
“Jessica! Kamu harus dengarkan kata Papi!” Koh Liling berusaha mengejar Jessica hingga anak tangga rumahnya.

“Tidak, Pi! Jessica tidak akan menikah dengan lelaki pilihan Papi. Jessica hanya mencintai Andik. Titik!”

“Sejak kapan kamu menjadi kurang ajar sama Papi, ha? Jessica, tunggu!”

Amarah Koh Liling semakin menyulut. Perdebatannya sejak satu jam yang lalu belum juga menemukan titik terang. Koh Liling yang mengejar Jessica tiba-tiba tergelincir dengan karpet merah yang mendasar di lantai tangga. Tubuh kurusnya terpelanting hingga ujung bawah tangga, kepalanya terbentur keras dengan lantai. Jessica segera berlari menolong Papinya yang sudah tak berdaya. Darah segar semakin deras mengalir dari kepala Koh Liling, memberi bekas merah pada kaos putih yang dikenakan Jessica.

****

Tidak banyak warga kampung yang hadir saat proses pemakaman Koh Liling, jelas saja karena ia merupakan orang pendatang di kampungnya. Jenazah Koh Liling akan dikubur di samping pemakaman istrinya, sebagaimana adat masyarakat China melakukannya. Sejak kematian Koh Liling, Jessica sampai tak tahu cara menghentikan air matanya. Yang ada hanya rasa penyesalan. Seandainya perdebatan malam itu tak terjadi, mungkin kematian Koh Liling tidak akan terjadi secepat ini.

Andik, lelaki yang Jessica anggap sebagai penyebab kematian Koh Liling juga hadir dalam upacara pemakaman itu. Sepertinya Andik juga ingin memberi penghormatan terakhir kepada Koh Liling. Andik tak datang sendiri, ia bersama seorang lelaki yang tampak asing bagi Jessica. Lelaki itu mengenakan baju koko putih dan berkopyah hitam.

Jessica masih tertunduk layu di samping pemakaman Koh Liling. Orang-orang yang tadinya hadir di pemakaman, mulai meninggalkan pemakaman. Bunga-bunga yang Jessica tabur diatas pemakaman Koh Liling, serasa tak cukup untuk ikut mengubur rasa penyesalannya. Tiba-tiba terdengar suara lembut nan lirih dari seseorang yang berada dibelakangnya.

“Aku ikut berduka, atas meninggalnya Koh Liling.” Andik memegang pundak Jessica, berusaha menenangkan.

“Aku tidak butuh belas kasih dari kamu! Bahkan aku juga tidak mengharapkan kamu ada disini!” dengan cepat Jessica melemparkan tangan Andik yang bersarang di pundaknya.

“Aku datang kesini, karena aku menaruh hormat kepada Papimu.”

“Oh, ya? Menaruh hormat katamu? Bajingan! Asal kamu tahu, kematian Papiku itu sebab kamu! Tetapi, kamu malah mengacuhkanku!”

Jessica benar-benar tidak bisa menahan emosinya kepada Andik, sedang air matanya semakin membasahi sisi wajahnya. Marah dan menangis. Andik yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tidak menerima atas tuduhan Jessica. Ia balas memarahi Jessica.

“Kamu bilang kematian Koh Liling karena aku? Kenapa kamu menyangkutpautkannya dengan aku? Sebenarnya yang bajingan itu aku, atau kamu, ha?”

Plaaaak….

Sebuah tamparan keras bersarang di pipi kanan Andik. Mendapat perlakuan seperti itu, Andik mencoba untuk balik menampar Jessica. Namun tangannya terhenti di udara, saat Bahrul dengan cepat menahannya.

“Kamu tidak pantas menampar seorang perempuan, An.”

“Tapi dia menamparku, kenapa kamu tidak membelaku?”

“Maaf, aku hanya membela yang pantas untuk di bela, An.” Bahrul melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Andik.

“Heh Jessica, kalau bukan karena rasa hormatku kepada Koh Liling, tidak mungkin aku mau menemuimu lagi! Dan sekarang, aku lebih yakin untuk tidak bertemu lagi denganmu!” Andik meludah, lalu meninggalkan Jessica dan Bahrul.

Bahrul hanya menarik napas berat menyaksikan pertikaian antara Jessica dan Andik diatas pusara Koh Liling. Bahrul tidak heran jika Andik bertikai dengan kekasihnya, tetapi ia masih penasaran dengan masalah diantara keduanya. Tak seperti biasanya, kali ini Andik sedikit menutup diri untuk menceritakan masalah yang terjadi dengan Jessica kepada Bahrul.

“Maafkan sahabat saya, dia sebenarnya baik, hanya saja tidak bisa mengontrol emosinya. Semoga kamu bisa mengerti.” Andik mencoba menenangkan Jessica.

“Kamu tidak tahu apa yang terjadi, jadi tidak usah ikut campur,” suaranya serak.

“Sekali lagi maaf. Kalau begitu saya pamit diri, Andik pasti sudah menunggu di mobil. Oh, iya, semoga diberi kesabaran atas meninggalnya orang tuamu.”

****

Sepanjang perjalanan dari pemakaman, Andik tak henti-hentinya menggerutu, sesekali ia mengumpat kepada Jessica. Emosinya benar-benar meluap, sampai-sampai mobil yang dikemudikan Andik nyaris menabrak seorang anak kecil yang akan menyeberang jalan.

“Kalau kamu tidak bisa menghilangkan emosimu, lebih baik aku turun disini saja, An. Aku tidak mau mati bersama orang sepertimu,” gerutu Bahrul.

“Maaf, Rul.”

“An, bukan maksudku untuk mencampuri urusanmu, tapi tidak seharusnya kamu melakukan perbuatan seperti tadi kepada seorang perempuan, apalagi dia kekasihmu.” Bahrul sengaja memancing Andik untuk menceritakan masalahnya.

“Itu karena kamu tidak tahu dengan masalah yang sedang aku alami. Rul!”

“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua?”

“Maaf, Rul, untuk kali ini aku tidak bisa menceritakan masalahku kepada siapapun, termasuk kamu.” Andik sedikit mengurangi kecepatan mobilnya.

“An, sudah berapa tahun aku berteman denganmu? Aku sangat mengenalmu, dan kamu juga pasti sangat mengenalku. Aku tahu, kalau kamu sedang membutuhkan seseorang untuk membantu memecahkan masalahmu. Dan ingat, masalah itu bukan untuk di permasalahkan, tapi dicari jalan keluarnya. Kalau kamu tidak tahu jalan mana yang akan kamu lewati, bertanyalah pada orang yang sekiranya bisa mengarahkanmu pada jalan tersebut. Sekarang, berceritalah, insyaallah aku bisa membantumu.”

Andik hanya membatin, apa yang diucapkan Bahrul memang benar adanya. Saat ini ia membutuhkan seseorang yang dapat menjadi teman pemikul masalahnya. Ia benar-benar buntu untuk menghadapi masalahnya sendiri.

Setelah benar-benar yakin Bahrul dapat dipercaya, Andik mulai menceritakan masalah yang sedang terjadi dengan Jessica. Andik berharap Bahrul akan memberinya solusi  untuk melangkah. Namun setelah Andik selesai bercerita, malah mendatangkan amarah bagi Bahrul.

“Justru kamu yang seharusnya dikatakan bajingan Rul, bukan Jessica! Seandainya kamu bukan sahabatku, dan Islam tidak melarang, sudah aku bunuh kau saat ini juga!”

“Aku juga tidak tahu, siapa yang bajingan. Aku, Jessica, atau malah kami berdua. Aku tidak tahu Rul! Kamu mau membantuku kan, Rul?”

“Aku tidak bisa bantu jika masalahmu seperti ini. Kamu benar-benar sudah menyimpang jalan, dan sekarang kamu malah mempermainkan perempuan. Maaf harus aku katakan, kamulah yang bajingan! Dan kalau kamu tetap menolak keinginannya, kamu jauh lebih dari seorang bajingan.” Bahrul memasang wajah geram, tangannya mengepal erat serasa ingin dilayangkan di wajah Andik, namun berusaha ditahannya.

“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau akan membantuku?”

****

Jessica lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya, kini rumah itu serasa tak berpenghuni setelah kematian Maminya dua tahun lalu, dan disusul dengan kematian Papinya dua hari lalu. Namun bukan karena itu yang membuatnya sangat terluka. Baginya, kematian sudah pasti terjadi, buat apa terlalu ditangisi.

Kali ini Jessica kembali bertandang pada kejadian dua minggu lalu. Saat salah seoarang lelaki yang sangat ia cintai, ternyata merusak kehidupannya. Seketika itu pula ia merasakan sakit hati yang membekas amat dalam.


Di pagi yang cerah dengan sedikit embun yang masih menetes, Jessica terbangun dari tidurnya karena merasa mual. Di dalam perutnya seperti ada sesuatu yang mengganjal, berkali-kali ia berusaha memuntahkannya, namun tetap tidak ada reaksi apapun. Sudah dua hari ia membiarkannya, dipikirnya hanya sekedar masuk angin. Tetapi hari ini Jessica berencana untuk memeriksakan keadaannya ke dokter.

Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Papinya, Jessica langsung pergi ke rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di rumah sakit, dan setelah menjalani pemeriksaan, Jessica sangat terkejut dengan hasil diagnosa dokter  atas keluhannya selama beberapa hari ini. Jessica dinyatakan positif hamil. Kabar baik bagi dokter tersebut, tetapi tidak untuk Jessica.

Akhirnya Jessica membagi kabar tersebut kepada lelaki yang menjadi alasan hamilnya. Dia adalah kekasihnya. Dia Andik.

“Tidak mungkin! Kenapa tidak kamu tanyakan pada lelaki yang lain? Aku tidak mungkin menghamilimu!”

“Jadi, kamu pikir aku pernah melakukan hubungan intim dengan lelaki lain? Aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki lain kecuali denganmu, An!” air matanya terurai mengikuti lekuk wajahnya.

“Halah, aku tidak percaya! Wanita murahan seperti kamu pasti mudah untuk diajak melakukan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan, buktinya saat aku mengajakmu untuk melakukannya dulu, kamu langsung mengiyakan. Jadi jangan coba-coba kamu tipu aku!”

Plaaaak…

Sebuah tamparan keras membekas merah di pipi kanan Andik.

“Bajingan! Aku tidak terima atas tuduhanmu. Seumur hidup aku tidak pernah berbuat sehina itu, kecuali denganmu, dan itu karena aku termakan oleh janjimu! Sekarang kamu tega-teganya menyebutku sebagai wanita murahan! Dasar bajingan kamu Andik!”

Plaaaaak…

Andik membalas tamparan Jessica.

“Heh, pelacur! Telingamu dengarkan baik-baik, aku tidak akan mau menikahi seorang pelacur sepertimu! Kamu kira dengan berpura-pura nangis di depanku, terus aku akan menikahimu dengan status bayi yang tidak jelas di rahimmu, ha? Tidak semudah itu! Lagipula, orang tuamu tak menyetujui kamu menikah denganku, karena kita berbeda agama.”

“Kamu benar-benar bajingan! Aku bersumpah, atas sakit hatiku ini, lebih baik aku memilih menanggung malu dengan punya anak tanpa bapak, daripada menikah dengan lelaki yang berhati bangkai, yang tak punya malu untuk berkata pelacur kepada orang lain, sedangkan dirinya juga tak ada bedanya!”

Plaaaaak…. Andik kembali menampar Jessica hingga tersungkur.

“Sekali lagi aku peringatkan, jaga omonganmu dan berhenti menggangguku!”

****
7 hari setelah kematian Koh Liling.

Pintu rumahnya digedor oleh seseorang tak dikenal. Andik yang baru bersiap untuk pergi bersama Bahrul memeriksa siapa yang datang. Begitu terkejut Andik saat seseorang yang berdiri di ambang pintu tersebut adalah Jessica.

“Untuk apa kamu kesini lagi? Bukankah aku sudah katakan untuk tidak mengganguku lagi? Bukankah saat di pemakaman Papimu, kamu mengusirku?”

“Andik, aku mohon, jangan habiskan semua kebahagiaanku. Aku telah kehilangan kedua orang tuaku, dan aku tidak mau kehilangan kamu. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, An.” Jessica memegang erat tangan Andik. Air matanya mulai meleleh. Begitu rapuh kelopak mata itu, terlebih rapuhnya sangkar lebah.

“Apa kamu sudah lupa dengan sumpahmu sendiri, ha? Sekali saja aku bilang tidak, ya tidak! Cepat pergi dan jangan kembali. Aku sudah punya kekasih lain. Aku muak berurusan dengan pelacur sepertimu. Pergi!”

Tiba-tiba Bahrul yang telah membuat janji untuk menjemput Andik pun datang. Ia segera menghampiri Jessica dan membangunkan Jessica.

“Andik! Seharusnya kamu lah yang pantas mendapat perlakuan seperti ini! Kemana segumpal hatimu yang dulu berisi iman? Aku tidak menyangka, ternyata kamu setega ini kepada makhluk yang serupa dengan Ibumu.”

“Ah sudahlah.” Braaaak…. Pintu rumahnya ditutup sangat keras oleh Andik.

“Berdirilah, maaf aku membangunkanmu. Kamu tidak apa-apa? Sekarang ikutlah ke rumahku, disana kamu bisa jauh lebih baik. Aku memiliki adik perempuan, mungkin akan lebih nyaman jika kau bercerita dengan sesama kaummu.”  

****

“Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan air minum untukmu.” Bahrul mempersilakan Jessica duduk di selasar rumahnya.

“Maaf cuma ada air putih, silakan diminum. Semoga dapat menenangkanmu.” Bahrul kembali dengan membawa segelas air putih.

“Terimakasih. Maaf, nama kamu siapa? Aku belum mengenalmu.”

“Bahrul. Andik adalah sahabatku.”

“Aku benci mendengar nama itu, benar-benar membencinya. Aku hanya tak ingin sendiri, kini semuanya telah pergi, termasuk kebahagiaanku juga. Aku benar-benar sendiri, karena itu aku menemuinya.” Air matanya kembali mencuat dari ujung matanya.

“Kamu tidak sendiri, di agamaku menyebutkan bahwa Tuhan selalu bersama hamba-Nya.”

“Justru itu, aku tidak yakin kalau tuhanku akan sudi untuk tetap bersama seorang pelacur sepertiku.”

“Sudah lah, jangan selalu menghakimi diri. Dan tidak usah membawa kisah-kisah lalu dalam cerita saat ini. Bahrul telah bercerita semuanya kepadaku. Maaf, kalau ternyata kamu tidak menginginkan orang lain mengetahui masalahmu.”

“Aku sudah tidak peduli lagi jika seandainya semua orang mengetahui apa yang sedang terjadi denganku, juga tentang keburukanku.” Jessica menyembunyikan wajahnya dibalik jemari lentiknya.

Bahrul dapat merasakan kepedihan yang sedang melanda Jessica. Namun disisi lain, ia juga menyalahkan Jessica, kenapa tidak menjaga kehormatannya dengan baik. Sudah jelas-jelas kalau perbuatan tersebut dilarang dan mendapat murka. Terlebih, Bahrul sangat kecewa terhadap sikap sahabatnya. Ia tidak menyangka bahwa Andik akan melakukan tindakan seperti itu.

“Insyaallah, aku akan membantumu untuk menyadarkan Andik agar mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.”

“Terimakasih atas penawaranmu. Tapi aku sudah besumpah untuk memilih menanggung malu dengan punya anak tanpa bapak, daripada menikah dengan lelaki yang berhati bangkai seperti Andik. Dan aku lebih baik menggugurkan janin ini.”

Astaghfirullah…” Bahrul membatin

“Sungguh itu akan jauh menyengsarakanmu, dan tak ada bedanya antara hatimu dengan Andik. Di agamaku, perbuatan tersebut akan mendatangkan murka Tuhan, karena sama saja dengan membunuh nyawa tak bersalah. Dan aku yakin, bahwa di agamamu juga berkata yang sama.”

Jessica tersentak mendengar tutur dari Bahrul. Seketika itu juga niat buruknya seakan runtuh dari dinding hatinya. Baru kemarin ia mengira bahwa semua lelaki itu sama seperti Andik, tapi hari ini ia menemukan lelaki yang tak sama. Bahkan ia juga kagum dengan keshalihan hatinya, agama yang Bahrul peluk seolah telah mendarah daging. Tetapi Jessica tak habis pikir kenapa Andik tak sama seperti muslim yang lain.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan dengan keadaanku seperti ini?” Suaranya serak.

“Aku yakin di agamamu juga mengenal istilah taubat. Maka pertama yang harus kamu lakukan adalah bertaubatlah. Setelah itu biarlah masa lalumu terkubur bersama kelamnya, dan jadikanlah sebagai rambu-rambu pengingat agar kamu tak lagi mengulangnya. Pilihlah hidupmu sendiri, ambillah selembar kertas baru, kemudian silakan kamu tulis ulang dengan tinta yang kamu suka. Aku yakin, inilah saatnya untuk kamu membuka lembaran baru.”

****
January, 8th 2015

Semenjak itu, Bahrul lama tak mendengar kabar tentang Jessica. Pertemuannya dengan Jessica dua bulan lalu menjadi pertemuannya yang terakhir. Sedangkan Andik dengan rasa tak berdosanya telah menikahi salah seorang gadis di kampungnya akhir tahun  kemarin. Bahrul berkali-kali berusaha untuk menyadarkan kebekuan hati Andik, namun otaknya benar-benar membatu.

Justru semenjak menghilangnya kabar Jessica, membuat Andik semakin lupa dengan perbuatannya, dan membulatkan niatnya untuk menikah dengan perempuan lain. Sebagai sahabat, Bahrul hanya mengiringi niatnya dengan doa, dan pengharapan semoga ia mendapat Hidayah. Bahrul juga selalu meniupkan doa untuk Jessica agar selalu mendapat perlindungan.
           
Sebuah mobil sedan putih berhenti di depan pekarangan rumah Bahrul. Bahrul mencoba menebak siapa yang datang. Seorang wanita keluar dari dalam mobil, dengan rok panjangnya yang menjuntai hampir menyentuh tanah, serta balutan kerudung yang membungkus wajah putihnya. Bahrul hampir tak mengenali bahwa perempuan tersebut adalah Jessica.

“Assalamu’alaikum, Bahrul.” Ucap salam Jessica.

Bahrul bergeming mendengar tutur salam yang sangat lembut terlempar dari lisan Jessica. Bahrul tak mempercayainya bahwa ia mengucap salam yang telah diajarkan dalam agamanya─Islam.

“Wa...wa’alaikumussalam. Li...Jessica? Ini benar kamu?” Suaranya terbata-bata.

“Iya, aku sengaja datang untuk menemuimu. Semoga aku tidak mengganggu.” Jessica menyunggingkan senyuman.

Bahrul masih bingung dengan perubahan yang terjadi pada Jessica. Akhirnya Bahrul mempersilakan Jessica untuk duduk di kursi tua di selasar rumahnya. Barulah Jessica menceritakan tentang kepergiannya selama dua bulan terakhir ini.

“Aku telah bersaksi atas dua kalimat syahadat, Rul.”

“Subhanallah. Sungguh, lengkap sudah kecantikan yang Tuhan anugerahkan untukmu!” Bahrul tak hentinya berdecak subhanallah. Tubuhnya semakin bergeming saat Jessica mengatakan dengan mantap bahwa dirinya telah memilih agama Islam sebagai bantalan terakhir hidupnya.

“Semenjak tiga bulan lalu, ketika kamu memberiku nasihat untuk membuka lembar hidup yang baru, aku mulai memikirkan tinta yang akan aku pilih sebagai coretan diatas kertas baruku. Lalu aku pergi untuk mencari kemantapan hati, disana aku menemukan banyak penawaran hidup, tapi satu yang tertarik olehku. Yaitu Islam. Aku mengenal Islam dari tutur katamu, sepertinya lembut dan menyejukkan. Lalu aku mencari tahu yang sebenarnya, barulah dengan yakin aku ucapkan dua kalimat syahadat.” Jessica menghentikan pembicaraannya.

“Sungguh, surga mencari orang-orang sepertimu, Jes. Semoga kamu salah satun bidadari surga nanti.”

“Aamiin.”

Bahrul mensuguhkan segelas air putih untuk Jessica. Bahrul mengakui bahwa penampilan Jessica kali ini sangat anggun, senyumnya terpancar sendu meneduhkan. Bahkan Bahrul berani bertaruh, jika seandainya Andik melihat perubahan Jessica, ia akan mengemis untuk kembali pada peraduan cintanya.

Berkali-kali Bahrul membatin istighfar ditengah rasa kagumnya akan kecantikan Jessica, ia sadar bahwa rasa kagumnya kepada wanita yang tidak halal baginya akan mendatangkan dosa. Tiba-tiba Jessica kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Dan sekarang aku yakin, bahwa terkadang dalam hidup kita perlu untuk menutup lembaran lama, dan membukanya dengan yang baru. Bukan berarti karena kisahnya yang berakhir, melainkan untuk menuliskan kisah-kisah baru dengan tangan sendiri. Bertepatan dengan tahun yang telah menjadi baru, akupun ikut memperbaharui kisah hidupku, diatas lembar yang suci dari tinta darah. Semoga selamanya akan tetap seperti ini. Harapan, kenangan, bahagia, duka, dan cinta membingkai menjadi satu rantai dalam lembaran yang akan aku mulai. Semoga Islam yang telah aku sulam saat ini dapat menunjukkannya. Amin.”

Jessica menarik napas panjang setelah mengakhiri pembicaraannya. Sedangkan Bahrul memperhatikannya dengan mata yang sedikit berkaca.

“Aku bersyukur, kalau kamu benar-benar telah menemukan dan membuka lembaran barumu. Semoga tak lagi kelam. Lalu, bagaimana dengan kandunganmu?”

“Aku masih menjaga janin ini dengan baik. Benar katamu, janin ini tak bersalah. Hanya kadang aku menangisi nasib anak ini ketika terlahir ke dunia nanti, tidak ada sang bapak yang mengumandangkan adzan untuknya.” Jessica mengelus tiga kali perut buncitnya.

“Beberapa minggu lalu, Andik telah menikah. Maaf aku harus memberitahumu.”

“Aku sudah tidak memperdulikan dia lagi. Dia adalah bagian dari lembaran lama yang sudah aku tutup, dan sekarang aku sedang mencari seseorang yang akan menjadi kisah dalam lembaran baruku.”

Jessica menoleh ke arah Bahrul, lalu melanjutkan pembicaraannya, “Bahrul, sebelumnya aku minta maaf jika harus mengatakan ini. Mungkin terkesan tidak wajar jika seorang wanita yang mengatakannya. Sebenarnya, aku ingin seseorang yang menjadi bagian dalam kisah baruku adalah kamu. Mungkinkah kamu akan bisa menjadi imamku, Rul?” Suaranya lirih.

Bahrul terperanjat mendengar pernyataan dari Jessica yang belum terbayangkan sebelumnya. Memang, kedatangan Jessica hari ini membuat Bahrul sangat kagum, namun Bahrul tetap tak bisa memikirkan jawabannya sepintas karena rasa kagumnya yang baru saja berbinih.

“Aku tidak menyangka kalau kamu akan mengatakan seperti itu, Jes. Tapi aku tetap hormati perasaanmu. Hanya saja, aku belum bisa menjawabnya. Aku juga tidak ingin melukai perasaanmu jika harus menjawabnya sekarang. Maaf jika aku pun harus mengatakan ini.”

“Aku mengerti keputusanmu, Rul. Aku hanya ingin memuaskan diriku saja dengan mengatakan yang sejujurnya. Mungkin aku akan melanjutkan kisahku ini sendiri. Aku ingin berterimakasih untukmu, Rul. Berkat kamu, kini aku berani untuk membuka lembaran baruku. Berkat kamu pula, kini aku telah menjadi seorang muslimah yang akan mengawali perjalan hidup di lembaran baruku. Dan aku harap ini akan menjadi pelebur dosa laluku. Sekali lagi makasih, kini lembaran baruku telah terbuka.” Jessica tersenyum kepada Bahrul, lalu secepat kilat menundukkan kepalanya.

“Apapun pilihanmu saat ini, lembaran barumu akan membawanya pada kisah yang sempurna.”

“Dan jika tidak ada cinta lagi bagiku di bumi ini, maka aku akan beralih pada cinta-Nya.”

****


…bersambung…

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

7 komentar:

  1. Ada sedikit kesalahan penempatan tokoh di bagian awal *koreksi aja
    But, it's a nice story. I'll wait for the next..

    BalasHapus
  2. Panjang banget ceritanya. Untuk dijadiin 1 bab novel, bisa nih. Btw, kunjungin gue balik ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga juga bisa menjadi Novel :D
      Ikuti balik, ya...

      Hapus
  3. Wuiiihhhh ada calon penulis masa depan nih :D

    Lanjutin gaaaaaannnnn ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin :)))
      Terimakasih mas, bro. Semoga sering-sering berkunjung :)

      Hapus
  4. bikin nagih ceritanya, lanjutin bang!!!
    mampir ke blog gue bisa kali hehehe...

    BalasHapus