Sabtu, 25 April 2015

#Sabtu1Cinta: Terjebak Perasaan


Hallo pembaca, nggak kerasa sabtu kembali datang. Seneng? Atau sedih? Sedih mungkin menjadi kepemilikan si jomblo. Seneng buat kalian yang sudah punya pacar, pasalnya akan ada ritual malem mingguan. Atau mungkin bisa aja sebaliknya, nggak semua yang jomblo itu sedih, dan nggak semua yang punya pacar itu akan seneng. Semua akan bisa senang, dan sedih pada waktunya. *Hehehe*

Tapi, mau seperti apa kondisi hati kalian di hari sabtu ini, semoga tetap punya minat untuk membaca curahan hati dari sahabat kita yang satu ini. Bisa jadi, yang menjadi curhatan sahabat kita ini juga mewakili perasaan kalian. Seperti biasa, setiap hari sabtu akan ada serial #Sabtu1Cinta yang berisi tentang curahan hati pembaca. Yuk, disimak bersama.

Curhatan kali ini datang dari pembaca perempuan berinisial: D.P (Bukan Dewi Persik, loh). Kita sapa dulu, ya. Hallo DP!!!

Curhatan si D.P:
Hallo Bang Hay. Bang, sekarang ini aku lagi kagum, eh, mungkin sudah tahap suka sama seseorang. Tapi, dia sudah menjadi milik seseorang, dia sudah punya pacar. Dia orang Jawa Tengah, sedangkan aku dari Jawa Timur. Dia dewasa, dia lucu, dan dia menyenangkan. Aku kenal sama dia setahun yang lalu, awalnya cuma kontak-kontakan lewat facebook, sampai akhirnya kita saling tukeran pin BBM. Mulai dari situ kedekatan kami mulai hangat, kita juga sering teleponan.  Aku mulai merasa nyaman sama dia.

Aku pengennya, sikapnya dia nggak berubah ke aku. Tapi aku juga pengen dia nggak buat aku jatuh cinta ke dia. Gitu. Gimana, bang? Terus, siapa yang salah, aku atau dia?

Kata Bang Hay:
Hallo DP, semoga menjadi baik hatinya sabtu ini. Untuk pertanyaan siapa yang salah, aku bilang sih kalau sudah seperti ini jangan saling menyalahkan. Tapi, bersikaplah dewasa untuk memutuskan. Karena gini, mungkin si doi cowok itu nggak tahu kalau dia lagi deket sama kamu. Cukup dibayangin aja deh seperti apa jadinya kalau seandainya si doi cowok itu tahu.

Kamu boleh aja tetap kontak-kontakan dengan dia kalau cuma sekedar sharing pengalaman, asalkan kamu juga harus jujur ke si doi cowok itu, untuk menjaga tidak terjadinya kesalah pahaman. Kalian kan sama-sama perempuan, pasti tahulah apa keinginan hati seorang perempuan?

Dan satu hal yang bisa diambil dari semua ini, seandainya cowok itu menjadi milik kamu (pacar), mungkin saja dia akan bersikap yang sama seperti yang dia lakukan terhadap pacarnya sekarang. Yaitu, mungkin saja ketika sedang berpacaran sama kamu, cowok itu juga akan kontak-kontakan dengan perempuan lain. Mungkin kamu punya definisi sendiri atas laki-laki seperti ini.

Kondisi seperti ini bisa dibilang terjebak oleh perasaan, tapi sebenarnya nggak mungkin terjebak kalau kita nggak salah jalan. Saran juga buat pembaca yang lain kalau lagi berjalan, jangan sampai salah jalan. Jalan yang dimaksud adalah jalan perasaan, ya? *Hehehe*

Nah, sekarang bersikaplah dewasa. Sikapnya adalah, pikirkan yang terbaik bagi orang dulu, baru pikirkan tentang perasaan kita. Jika dianggap kedekatan kalian hanya sebatas sharing yang nggak terlalu sering, dan si doi cowok itu tahu tentang kedekatan kalian dan nggak mempermasalahkan, aku rasa nggak masalah. Tapi kalau sharing kalian terlalu sering sampai akhirnya menimbulkan perasaan miring, dan apalagi si doi cowok itu nggak tahu tentang kedekatan kalian, itu bisa menimbulkan masalah. Dan aku rasa, ketika kamu punya pacar, pun nggak mau cowok kamu bersikap seperti itu.

Jadi, berskipalah dewasa atas jalan yang telah dilewati sampai saat ini. Kamu masih punya kesempatan kok, untuk putar balik, jika ternyata di persimpangan jalan kamu nggak tahu arah untuk berbelok. Semoga menjadi baik hatinya J


Pembaca, juga tambahkan saran kalian kepada sahabat kita ini di kolom komentar, ya. Dan kita berjumpa di edisi #Sabtu1Cinta minggu depan. Bagi pembaca yang juga ingin ikutan dalam #Sabtu1Cinta, bisa klik disini.

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

4 komentar:

  1. Bang Hay, laki-laki yang aku ceritakan disini tidak pernah menyebut si gadis adalah 'pacar'nya. dia hanya menyebut "itu perempuanku". Aku tahu dari awal ini sudah salah. Kalau bang Hay nanya, apa selama ini aku tidak menempatkan posisi dengan baik? Jawabannya, aku 'sudah' menempatkan posisiku sebagaimana mestinya. Aku tahu diri, Bang. Akupun sangat sadar bahwa hubungan ini absurd. Tapi tolong, jangan lupakan bahwa aku juga wanita. Yang perasaannya sensitif! Aku sudah beri ancang2 sama si laki-laki, "Tolong tuan, batasi kebaikanmu. Jangan buat aku jatuh hati!". Tapi bukankah sudah kuceritakan sama Bang Hay kalau dia semakin hari semakin perhatian?

    Bang, aku sangat paham betul langkah apa yang harus aku ambil sejak aku sadar bahwa semua ini salah. Dan lagi-lagi dia selalu datang dengan sikap lucunya, dengan sikap menyenangkannya. Hanya dengan laku sesederhana itu, seluruh pertahanan dan kekuaranku runtuh :'( sekali lagi Bang, aku sudah nyaman sama dia!

    Tapi yasudahlah. Nanti aku akan bicara sama dia. Kusuruh saja dia menjauh sejauh-jauh-jauhnyaaaa...

    Terimakasih Bang, jawabanmu menamparku keras2!!! Baik, baik. Aku akan putar arah. Ini pilihanku :) semoga hatiku jauh lebih baik lagi setelah ini.

    BalasHapus
  2. Kalo menurutku perasaanmu gak salah kok, tapi gini, seandainya kamu jadian sama dia dan dia sudah jadi milikmu. Apa kamu merasa bahagia? Sedangkan di seberang sana ada seorang perempuan juga yang sedang menangis mungkin atas perbuatan kalian. Bener kata mas haydar tadi ya, mending jujur aja.
    Karena apabila ada seorang laki" meninggalkan perempuannya demi kamu, bisa jadi suatu saat nanti kamu yang akan ditinggal untuk perempuan lain. Itu sih menurutku ya ntah kalo kata kalian. Maav ikut campur :)
    Perempuan yang baik itu adalah dia yang mengerti perasaan wanita lain, karena kita sama" perempuan dan selalu merasakan apapun dengan hati :)

    BalasHapus
  3. Sebelumnya, terimakasih ya atas jawabannya Nn. Nurakhma Y :)

    Jadi, gini.. aku tahu perasaanku tidak salah. karena memang tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan perasaan.
    Dia membuatku mengaguminya, jatuh cinta, lalu pergi begitu saja. Menyakitkan ya? Jawabannya, iya!!

    aku adalah perempuan yang paling benci orang ketiga, paling benci perempuan kedua. Dan tolong, jangan sebut akh sebagai orang ketiga ataupun perempuan kedua dalam cerita ini. karena aku bukan 'mereka'. aku bukan bagian dari 'mereka' :)
    kau tahu orang ketiga? kau tahu perempuan kedua? ya..mereka adalah "perebut kebahagiaan orang". tapi sekali lagi aku tegaskan, aku bukan 'mereka'! Sebab apa? Sebab aku tidak mengusik, tidak mengganggu, pun tidak merebut!

    Laki-laki itu datang secara baik-baik. Menawarkan kebahagiaan dengan tingkah sederhana dan menyenangkannya. Kemudian, di tengah percakapan dia bilang, "Kamu lebih menyenangkan seperti ini. Tertawa seperti ini."
    Awal dia datang, dia tidak menyebutkan bahwa dia punya perempuan yang harus dijaga. Yang dia lakukan adalah membuat aku percaya bahwa aku "berharga". Lalu akhirnya, aku mengagumi; mengagumi dia.

    Minggu selanjut-lanjut-lanjutnya, dia jadi seringa datang. Aku ceritakan ya.. Dia orang yang lucu, dia dewasa, dia menyenangkan. dan percayalah bahwa aku mulai jatuh-hati waktu dia menceritakan betapa dia jatuh cinta pada perempuannya.

    Setelah itu, semuanya tetap baik-baik saja. Tiap kali dia datang, dia selalu menceritakan gadisnya. mengistimewakan gadisnya. dan ketahuilah, apa-apa yang dia lakukan untuk gadisnya, adalah apa-apa yang membuatku jatuh hati padanya!
    ssattt...aku jatuh diam-diam sama dia ;D Sebab disini aku tahu diri. Sungguh aku tahu diri. Perempuannya itu istimewa. sangat-sangat istimewa. Dan.aku tidak akan berusaha mengusik mereka. Pun aku tidak berharap dia jadi milikku. Sama-sekali tidak. Percayalah... aku menikmati perasaanku.

    Sampai akhirnya suatu hari. Dia datang. Kali ini dia berbeda.
    Iya, sangat berbeda. Dia semakin sering datang, mengingatkan aku makan, mengingatkan aku belajar, dan menanyakan bagaimana UTSku "hari ini".
    Nona, tuan, siapapun kalian..sekali lagi; tolong jangan lupakan bahwa AKU ADALAH WANITA. yang perasaannya sensitif :)

    Dan dari situlah aku baru sadar bahwa ini semua SALAH. ini sudah melampaui batas pertemanan. Aku tidak ingin semakin dibuat jatuh, tapi aku juga ingin dia tetap menyenangkan. aku sudah nyaman dirangkul dengan candaannya, dan tolong jangan ubah itu :)

    Nona dan tuan. jika kalian menyuruh saya jujur, saya tidak bisa. sebab apa? sebab si laki-laki ini tidak pernah menunjukkan akun media sosial si perempuan. dia hanya sering menyebutkan nama, dan fotonya saja -__-

    Sekarang saya tahu. Ada yang terluka disini. Walau saya tak.mengusik, tapi melakukan hubungan diam-diam (apapun sebutannya) hingga membuat salah satunya jatuh cinta, ITU SALAH!
    Yang saya inginkan hanyalah menyelesaikan semua ini. mengakhiri kisah bodoh ini.

    Jadi, apa keputusan ini sudah cukup benar? ;) semoga ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apapun yang telah menjadi keputusan, semoga benar. Semoga kisahmu kembali jernih, begitupun dengan perasaanmu. Semoga kamu segera keluar dari kisah ini, jika itu terbaik bagimu. Semoga menjadi keputusan hati yang terbaik.

      Hapus