Minggu, 01 Februari 2015

Yang Pernah Datang Lalu Menghilang

gobloghaydar.blogspot.com

Untuk : Initial ‘Domo’
Hay, aku harap kamu akan baik-baik saja disana. Jika kamu bertanya tentang keadaanku sekarang, aku jauh lebih baik saat berada di sampingmu dulu. Tapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku.

Aku minta maaf, jika datangnya surat ini akan kembali mengingatkanmu pada kebersamaan kita dulu, yang mungkin saja telah kamu kubur bersama keindahan yang baru. Tetapi, aku hanya ingin menyenangkan diriku sendiri dengan berusaha mengungkapkan perasaanku ini untukmu.

Dulu, aku masih ingat saat pertama kali kita saling kenal. Ya…, saat aku dan kamu tidak sengaja saling asyik untuk berbicara di BBM.  Aku mulai bertanya namamu, dan kamu juga balik bertanya siapa namaku. Entah siapa yang memulainya, yang jelas aku mulai merasa beda. Kita mulai berbicara banyak hal, tentang kelucuan kita masing-masing, dan percakapan kita akan berakhir saat malam melelapkan satu diantara kita.

“Udah tidur ya ? Selamat tidur ya J
Itulah pesan yang aku kirim untukmu setiap malam, saat kamu meninggalkan pembicaraan.

“Maaf ya, semalam aku ketiduran. Hehehe.”
Setiap pagi, aku selalu menerima pesan yang sama dari kamu.

Waktu tidak sampai disitu. Ia menggulirkan kedekatakan kita pada pertemuan yang pertama. Kita berjanji di suatu tempat, dan kita saling menepati di waktu yang telah kita buat. Sore itu, aku mulai menunggu, dan ku lihat kamu mulai datang mendekat. Aku yakin itu kamu, walau kita belum pernah bertemu. Entah kenapa, saat kamu sapa namaku dengan sebongkah senyuman itu, ada yang aneh pada diriku. Mungkin jika nadiku kamu potong, tak akan kamu lihat darah yang mengalir. Mungkin jika kamu sentuh dadaku, tak akan kamu temukan detak jantungku. Mungkinkah kamu juga begitu ? Entah.
Dan disaat itu, tidak ada percakapan yang terdengar diantara kita. Bibirku serasa kalut, dan terkunci rapat. Kita seperti kucing yang sedang malu. Sesekali aku bertanya, “Jam berapa mau pulang ?” Aku hanya memastikan kalau aku tidak sedang mengganggu waktumu.

Waktu terus bergulir. Hingga akhirnya aku dan kamu menjadi kita. Ya… saat kita saling beradu cinta, dan kasih. Saat kita saling merekatkan satu janji yang sama. Yaitu kebersamaan. Aku bahagia memilikimu. Kamu juga berkata seperti itu untukku. Kita sama-sama bahagia, bukan ?

Kita mulai mengisi hari dengan kelucuan kita, dan saat kamu tertawa, aku paling suka melihat sederet gigi putihmu.  Saat kamu tersenyum, aku paling suka melihat tahi lalat tipis di atas bibir kananmu. Saat kamu mulai marah, aku paling suka melihat alis matamu yang seolah menyatu ditengah dahimu. Dan yang paling aku suka, semua tentangmu.

Tapi terkadang, waktu selalu menggulirkan kita tanpa kita tahu tujuannya. Siklusnya, dulu waktu menggulirkan kita untuk saling kenal. Waktu menggulirkan kita untuk saling bertemu. Kemudian, waktu menggulirkan kita untuk saling mencintai, dan bersama. Namun, setelah beberapa waktu, ternyata waktu menggulirkan kita untuk saling menjauh, dan menjauh, lalu menghilang.

Diawali dari rasa tak terduga kalau kita akan bersama, kini juga diakhiri dengan rasa tak terduga kalau kita akan berpisah. Kita harus kembali menjadi aku dan kamu, seperti dulu. Dan lewat surat ini, aku ingin menyampaikan tentang perasaanku yang belum sempat aku sampaikan dulu, karena kamu terlalu terburu untuk meninggalkanku.

Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku masih mencintaimu, jika itu salah, aku minta maaf. Aku selalu menghitung hari, sudah berapa lama kamu pergi dari kehidupanku, dan selama itu pula, perasaanku tak ada yang berubah. Hanya satu yang berubah, disaat aku merasakan kerinduan, tak ada lagi yang mengobatinya, hingga sampai saat ini, kerinduan itu membelukar di semak hatiku. Akarnya terlalu kuat untuk aku cabut, jadi aku biarkan saja ia semakin menjalar.

Kemarin, aku mendengar kabar dari temanmu, bahwa ternyata kamu telah memiliki teman cerita hidup yang baru. Maka lewat surat ini aku juga akan berkata, “Selamat ya ?”.  Akan aku iringi kebersamaan kalian lewat doaku, semoga selalu bahagia, dan cepat amnesia tentangku. Semoga aku juga dapat melupakanmu, jika itu mungkin terjadi.

Sekali lagi aku minta maaf, jika surat ini terlalu lancang aku kirim untukmu. Aku selalu mengirimkan pesan ini pada angin yang beradu di malam hari, tapi aku tak percaya kalau angin benar-benar menyelipkannya lewat tidurmu. Aku beranikan untuk ambil pena, dan menulisnya pada secarik kertas bisu. Semoga kamu berkenan untuk membacanya.

Terimakasih atas perkenalannya dulu, terimakasih telah menyempatkanku menjadi bagian dalam hidupmu. Terimakasih atas semua perhatianmu dulu, jelas aku akan selalu mengingatnya. Terimakasih telah menjadi kisah yang selalu aku tulis dalam harianku. Terimakasih pernah ada, lalu tiada. Terimakasih telah datang, lalu menghilang. Terimakasih.

Sampai saat ini, aku selalu percaya bahwa waktu tidak pernah memisahkan cinta. Tapi waktu hanya memberi jarak, dan suatu saat nanti, waktu akan kembali menyatukan cinta. Aku harap akan terjadi dengan kita, dan itu sebabnya aku sedia bertahan menunggumu, entah sampai kapan ?

Dari : Aku

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

6 komentar:

  1. Jarang-jarang nemu surat puitis gini, hebat kak :)

    BalasHapus
  2. hmmmm gue tau banget perasaan yang kayak gini :( tapi kita emang harus tau cara berjalan mundur tanpa harus disuruh.. tinggal lihat tanda2 aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati jalan mundurnya :D Makasih atas kunjungannya :)

      Hapus