Selasa, 03 Februari 2015

Untuk Gadis Kecil Tanpa Seragam

Halo adek cantik, semoga masih baik-baik saja J


Maaf ya, kalau tadi kakak sempat membuatmu takut karena tiba-tiba datang menghampirimu, lalu memberikan sekotak sandwich dan sepucuk surat ini. Adek sudah sarapan ? Pasti belum kan ? Semoga sandwich yang kakak berikan dapat membantu mengganjal isi perut adek. Hari ini harus kembali bekerja ? Jadi makannya harus kenyang, habiskan sandwichnya ya adek cantik.

Setiap kali kakak pulang dari kampus, kakak selalu melihat adek yang telah berdiri di samping tiang lampu merah perempatan jalan. Dan dari kejauhan kakak melihat, ketika lampu lalu lintas berganti warna merah, dengan senangnya adek berjalan ke tengah jalan, berdiri di samping pengemudi mobil, lalu memadukan gitar ukulele dengan lagu yang adek nyanyikan.

“Terimakasih.”
Kalimat itulah yang selalu adek sematkan diantara senyuman yang adek berikan kepada setiap penikmat nyanyian sendu di siang bolong yang adek nyanyikan. Tak sedikit diantara mereka yang hanya sekedar membuka kaca mobil, melambaikan tangan kanannya, lalu berkata, “Maaf.” Lalu adek pindah ke mobil lain, berharap mereka yang membuka kaca mobilnya akan memberikan recehan untuk mengisi kantong kosong hari itu.

Dengan topi yang bercabang diatas kepala, adek rela melawan rasa panas yang menyengat pori. Tak habis pikir, bagaimana bisa adek bertahan dengan panas yang begitu menyengat ? Bahkan kakak sendiri selalu mengeluh kepanasan jika berhenti terlalu lama diantara antrian lampu merah. Sedangkan adek, selalu melakukannya setiap hari ?

Dan dari sanalah, kakak selalu membatin segudang pertanyaan untuk sebuah penjelasan. Tetapi kakak khawatir, dengan mereka yang sedang mengawasi adek bekerja. Seandainya tidak ada mata yang meronta di balik semak, mungkin kakak akan selalu menemani adek menjadi pengiring disetiap nyanyian yang dibawakan. Setidaknya adek tidak sendiri untuk melakukan tantangan hidup di jalanan.

Kakak terlalu haru, kadang tak sadar telah menitikkan air mata. Melihat seorang gadis mungil, yang seharusnya dengan rapi duduk di bangku sekolah, malah menapakkan kaki telanjangnya diatas aspal, dan duduk menunggu rezeki diatas trotoar jalanan kota. Mungkin jalanan itu tak pernah dilewati oleh pejabat-pejabat kita, sehingga adek tak terlihat. Semoga suatu saat nanti, jalanan itu akan dilewati oleh pejabat yang dulunya pernah juga menunggu di pinggir trotorar. Dan kakak harap orang itu adalah adek sendiri.

Kakak selalu bertanya, kemana kedua orang tuamu ? Apa mungkin, kedua orang tuamu bertumpu harap hidup pada pundak adek ? Jika iya, kenapa dengan orang tuamu ?

Kakak hanya tak tega, melihat adek yang seharusnya berseragam merah putih, menggendong tas di pundak, bersepatu hitam, dan pergi untuk mengikat ilmu dengan penanya di bangku sekolah, justru malah menanggalkannya, dan terpaksa begelut dengan tantangan hidup yang tak semestinya kamu dapati. Kakak percaya, adek juga punya cita-cita, coba sebutkan sekarang ?

“AAMIIN.”
Kakak akan mengamini semua doa, dan harap yang telah bersarang di benak adek.

Kakak hanya berpesan, tetaplah menebarkan senyuman ya ? Suatu saat nanti, cita-cita itu akan terwujud, percaya saja pada Tuhan. Kakak sayang sama adek, dan kakak janji, setiap pagi kakak akan selalu memberikan sekotak sandwich sebagai bekal sarapan adek. Adek pasti suka kan ? Itu kakak sendiri yang membuatnya, hehehe.

Dan kakak janji, suatu saat nanti kakak akan mengembalikanmu pada dunia yang sesungguhnya, yaitu di bangku sekolah. Kakak janji, dan untuk sebuah janji, akan selalu ditepati. Semoga adek senang membaca surat ini. Semangat ya adek sayang, hidup bukan tak adil, tetapi hidup memiliki banyak jalan untuk menuju satu yang pasti, yaitu pada harapan kita !

Sampai ketemu besok pagi adek cantik J

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

2 komentar:

  1. huweeeeeeee~~ gue bacanya sampe menitikan air mata T^T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini *menyodorkan tisu*
      Makasih kunjungannya ya ;)

      Hapus