Kamis, 12 Februari 2015

Menunggumu ? Takdirku !

Untuk : Kamu yang sedang ku tunggu

Aku pastikan, saat kamu membaca nama pengirim surat ini, kamu akan mencoba menerka siapa seseorang yang telah menunggumu. Tidak usah bingung menebak siapa namaku, aku adalah orang yang pernah berjuang bersama denganmu. Aku adalah orang yang pernah engkau tempatkan di peraduan hatimu, namun kini aku adalah orang yang engkau hempaskan, engkau keluarkan aku dan kau kunci pintu hatimu untuk memastikan bahwa aku tak akan pernah kembali masuk. Namun tanpa kamu tahu, aku masih duduk tersungkur di depan pintu, menunggu engkau si pemilik kunci akan kembali membukanya, dan menyuruhku masuk.

Tanpa kamu sadar, aku telah menunggumu sejak pertama kali aku mengenalmu. Sampai akhirnya aku memilikimu, untuk sejenak aku sangat bahagia karena telah menyandarkan penantianku. Namun saat siluet senyumku baru terlukiskan setengah bagian, aku terbangun dari mimpiku. Ternyata aku tetap saja menunggu, seperti dulu.  Apakah kebersamaan kita yang kemarin hanya sebuah mimpi ? Aku coba temukan jawabannya saat aku baru sadar dari mimpiku.

Oh bukan, ternyata bukan mimpi. Semuanya memang benar nyata. Aku nyata menunggumu, lalu kamu datang dan memberiku harapan. Kamu benar-benar nyata pernah menjadi milikku. Lalu dengan nyata pula kamu pergi meninggalkan aku. Dan aku nyata sakit hati, kini engkau kembali jauh, dan aku kembali menunggumu. Kini, aku menunggumu saat engkau telah buatku sakit hati, tapi aku masih mampu tersenyum untuk setia menjamin rasa cintaku untukmu.

Bukan sekali dua kali aku menunggumu, bukan sekali dua kali aku engkau sakitiki. Tapi entah mengapa hingga kini, di setiap detik hidupku selalu terselip sebuah harapan untuk bersama dengan dirimu. Aku pernah menunggumu, lalu memilikimu, dan sekarang harus kembali menunggumu. Aku baru sadar, bahwa aku lebih bahagia saat diam-diam menjadi penunggumu. Daripada memilikimu, tapi air mata dengan diam-diam bercucuran mengikuti lekuk wajahku menetes hingga ujung kaki. Dan disaat itu pula, hatiku serasa sangat rapuh, bahkan lebih rapuh daripada sangkar lebah. Mungkin memilikimu, hanya sebuah imaji. Yasudahlah.

Semenjak engkau lumpuhkan hatiku, aku bagaikan puisi yang terbuang dari baitnya, sehingga tersajak begitu menyayat. Aku bagaikan sebuah lagu yang dinyanyikan tanpa nada. Aku berusaha melindungi hatiku, bukan karena tak ingin menangisimu lagi, tapi karena tak ingin kecintaanku padamu luntur oleh sakit yang kau bubuhkan disetiap kerinduanku. Sesakit sembilu yang kau tancapkan, aku selalu berusaha meyakinkan hatiku bahwa itulah keindahan dari mencintaimu.

Aku tak pernah menyesal telah menunggumu, mencintaimu, dan bahkan disakitimu. Bahkan jika engkau inginkan kembali menyayat hatiku, silahkan saja. Dan saat engkau melakukannya, aku ingin melihatmu sambil tersenyum dengan segala keindahannya, karena senyummu adalah bius akan rasa sakitku.

Mungkin memang takdirku untuk selalu menunggumu. Tuhan telah menakdirkannya begitu. Aku memang terlihat seperti pecundang, yang bersembunyi dibalik semak, dan berlindung pada akar agar tak terlihat olehmu. Semua orang memilih setia menunggu karena ingin memiliki apa yang dia tunggu, tapi tidak padaku. Aku setia menunggumu, untuk tahu betapa sakitnya arti menunggu, sedang yang ku tunggu tak pernah  jemu untuk menyakitiku. Semakin sakit rasaku, maka aku semakin tahu bahwa semakin besar rasa cintaku untukmu. Andai engkau tahu, apakah akan menolehku ?

Entah sampai kapan, aku akan setia untuk tetap berdiri di depan pintu hatimu. Lagi-lagi untuk sekedar menunggu. Orang berkata; “Kenapa tak kau lepaskan dia ?” Percayalah, mereka hanya tak tahu dengan rasa ikhlasku menunggumu, dan aku rasa engkaupun tak tahu.

Saat engkau membuka pintu, aku rasa itu bukan untuk menyuruhku masuk. Melainkan untuk sekedar melihat orang lain yang baru saja menunggumu. Dan ketika engkau lebih memilih dia untuk mengajaknya masuk, aku akan tetap tersenyum. Dari ambang pintu, aku akan tundukkan kepalaku dengan mata terpejam, agar engkau tak melihat air mata darah yang telah menggantikan air mataku yang telah habis untuk menangisimu. Aku rasa engkau tetap tak akan menoleh sedikitpun ke arahku.

Mungkin orang lain ingin tahu, disaat seperti itu apakah aku akan tetap menunggu atau memilih menghapus air mata lalu pergi ? Aku tak akan pernah memilih apapun, selain memberi tahumu bahwa ‘aku masih mencintaimu, iya benar-benar masih.’ dan ‘jika kemarin engkau pernah mendengar suara tangis yang dibawa angin dari semak belukar itu, adalah suara tangisku, mungkin terdengar merdu di telingamu, tapi itu menyayat hatiku.’

Lalu setelah tersenyum ke arahmu, maka aku akan meminta kepada Tuhan, “Tuhan, setiakanlah aku untuk setia menunggu dia. Dan disaat kesetianku mulai pudar, lebih baik Engkau cabut nyawaku. Aku telah tak setia padanya, walau sebenarnya aku tak berjanji.”

Kamu tahu artinya ? Kepergianmu telah mengajarkanku untuk selalu setia menunggumu ! Semoga engkau tak pernah tahu rasanya menunggu …


Dari : Aku yang menunggumu

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

2 komentar: