Senin, 16 Februari 2015

Cinta apa Dusta ? : Ku Bertanya

Untuk : Dia
gobloghaydar.blogspot.com

Untukmu yang masih tetap indah di pelupuk mataku, untukmu yang masih abadi dalam benam hatiku, untukmu yang telah datang lalu menghilang, aku ingin bertanya kepadamu; Ingatkah engkau akan aku ? Jika memang iya, apa yang kau ingat tentangku ? Aku masih mengingatmu, kau yang dulu beri janji hati, lalu lukai hati.

Aku ingin bertanya, banyak bertanya dalam suratku ini. Semoga tak kau jawab hanya dengan genangan air mata, karena ternyata pertanyaanku menyayat hatimu─sebab ulahmu sendiri yang dengan sengaja meninggalkanku, dulu.

First question;
Saat kau pertama mengenalku, apakah tak kau pandang mataku yang sedang berbinar, sebab kau ada di depanku ?
Aku memandangmu sangat dalam, ku masuki kedua bola matamu, aku berusaha meluluhkanmu. Akhirnya kau tersenyum untuk ku─senyum pertama kalimu. Aku ikut tersenyum bersamamu. Mengertikah engkau saat itu, bahwa ku terjerat oleh senyummu ?

Second question;
Saat aku bilang suka kepadamu, sampai ku katakan sayang─yang ku lirihkan tepat di belakangmu, apakah kau mengerti, bahwa sayangku tak pernah luput oleh hati yang putih, ikhlas ?
Lalu, kau menoleh ke arahku. Kau tak langsung menjawabnya, melainkan tersenyum. Senyum yang sangat lebar, sepertinya aku tahu setelah itu kau berkata apa. Kau menerima cintaku, dengan berkata serupa denganku. “Aku juga menyayangimu.” Kini giliran ku yang tersenyum kepadamu.
Kini ku bertanya, siapakah yang menyampaikan rasa sayangmu dulu. Hatimu, atau lisanmu ?

Third question;
Kali ini ku ingat, saat pertama kali ku genggam tanganmu. Secara bersamaan kita saling memandang, kerning matamu terpancar indah. Untuk beberapa detik, ku tak berkedip sebab tak ingin kehilangan tatapan indahmu. Begitupun dengan kau, memandangku sangat tajam, melelehkan hati yang telah meleleh olehmu. Barulah kita melepaskan genggaman kita, dan tak saling memandang. Namun, detak jantung belum kembali berdetak semula. Kita seperti romansa, yang tak ingin kehilangan setiap detik keindahannya.
Aku kembali bertanya, sebab apa kau memandangku, dan menahan tanganku tak bergerak diantara sela-sela jemarimu ?

Forth question;
Angin laut berdesir syahdu, bagai alunan piano yang sedang bergelombang. Burung kecil bersama kelompoknya, ikut mendayu-dayu dengan nyanyian khas mereka. Sedang matahari, mengintip kita dibalik peraduannya─kala itu senja. Aku memelukmu mesra, dan kurasakan detak jantungmu menyatu dengan jantungku, berdetak bersamaan. Sungguh, aku seperti sedang mendayu bersama kelompok burung itu. Mendesir bersama angin laut, dan tertiup hingga ke angkasa. Pelukmu, menjadi penenang jiwa. Kala itu senja.
Kali ini, dengarkan ku bertanya. Beri ku arti untuk menjelaskan pada senja, akan peluk eratmu kala itu, yang seolah kau tak ingin lepaskan aku ?

Fifth question;
Di tempat yang sama saat kau memelukku, ombak tak terlihat menghanyutkan apapun─tenang seperti mati. Aku mencoba mencari burung yang akan bernyanyi menutup senja, tapi tak terdengar. Kemana perginya matahari ? Ia tak sedang mengintipku. Ada apa dengan senja kala itu, tak sepandang ku melihatnya kemarin─ku bertanya dalam hati. Ternyata ku tahu maksud senja, mengapa ia menutup diri, menyembunyikan rautnya. Kau katakan, “Akhiri saja cinta ini. Aku ingin sendiri, seperti senja yang selalu sendiri.” Ombak menghanyutkan hatiku, termakan oleh binatang lautan, dan berdarah. Kala itu laut tampak merah bercampur darah. Kau pergi, dan setiap langkah kakimu, terhitung semakin menyayat hatiku, karena kali ini kau pergi untuk menjauh. Laut menenggelamkanku, menyembunyikan air mata. Andai saja kau merasa seperti aku, tak kan pernah kau lakukan itu padaku. Mengapa, langkah kaki menjadi pilihan akhirmu untuk menyakitiku ? Bukankah kau masih punya banyak cara untuk menyakitu, menikam dengan pedang misalkan. Tak perlu hati yang kau sasar.

Sekarang aku kan bertanya, akan sebuah pertanyaan yang mungkin akan mengkalutkan bibirmu untuk berucap. Mendinginkan hatimu untuk merasakannya. Dan mungkin akan meneteskan air matamu, saat hatimu seolah berperan seperti hatiku. Apapun yang terjadi, ku mohon kau tersenyum lalu menjawabnya.

Last question;
Cinta atau dusta ? Janji yang kau ucap bersama senyummu, sehingga membuat mata berbinar akan kata yang kau rangkai begitu indah ? Mengapa perlu kau rangkai kata indah dalam bait janjimu, jika kau tak mengerti maknanya, dan akhirnya kau dustakan ?

Cinta atau dusta ? Rasa kasih dan sayang yang selalu kau lantunkan dikala aku akan tertidur, dan terjaga dari mimpiku ? Mengapa perlu berucap sayang, jika hanya sedang bersandiwara dalam kata. S-a-y-a-n-g memang terangkai sederhana, tetapi jangan kau ucap dengan sederhana pula, ia memiliki makna yang dapat kau temukan jika hatimu sedang tak berdusta. Kau seolah menulis kata itu dalam secarik kertas, yang dengan mudah dapat kau hapus. Ku sadarkan kau, bahwa kau sedang menulisnya di atas hati, bayangkan betapa sakitnya saat kau mencoba menghapusnya ?

Cinta atau dusta, peluk erat seolah mengikat dikala senja itu ? Mungkinkah kau sedang berkata sesuatu pada senja saat tubuh kita menjadi satu, dan  saat ku tak dapat melihat wajahmu. Pesan apa yang sedang kau sampaikan pada senja, hingga ia tahu bahwa hari itu kau akan meninggalkanku ? Jangan terlalu erat memeluk, jika kau paksa untuk melepaskannya saat eratnya telah mengikat─membelukar.

Cinta atau dusta, semua kata yang kau ucap, segala kasih yang kau sampaikan, dan setiap pelukan yang kau rapatkan. Sungguh ku tak menyangka, jika ternyata itu bukan cinta. Kini kesendirianku menjawabnya, kini sakit hatiku mengartikannya. Ku ingin memberitahumu, tentang cinta. Cinta adalah aku, yang tetap memaafkan saat kau lantarkan, berusaha menerima saat disakiti, dan segera menghindar saat kau telah bahagia bersamanya. Cinta adalah aku, yang tak pernah mengerti mengapa selalu menantimu, meski catatan luka selalu mengingatkan. Dan cinta adalah aku, yang tetap setia pada  satu kata meski terasa luka, yaitu ‘kamu’ !


Cinta atau dusta : Ku kira kau mencintaiku, ternyata hanya belaka !

Dari : nya

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

1 komentar:

  1. Cinta memiliki banyak misteri yang membuat kita menebak-nebak :)

    BalasHapus