Senin, 09 Februari 2015

Bidadari Penyayat Hati

Untuk : Pemilik sayap
gobloghaydar.blogspot.com

Aku sengaja menulis sepucuk surat ini untukmu, dengan perasaan bahagia karena bisa mensuarakan perasaan hatiku dalam tulisan. Namun, terasa ada sayatan yang mencabik saat tiba-tiba terbayang dengan kisah kita dalam kepala dan batinku. Entah, harus darimana aku memulai isi surat ini. Apakah harus aku mulai dari kebahagiaanku saat pertama kali mengenalmu, atau berjalan mundur dari rasa sakit yang kini aku gandrungi setelah aroma indahmu mulai tak tercium oleh inderaku.

Sebenarnya, aku tidak ingin kembali menuliskan kisah ini yang membuat hatiku serasa tercabik. Berkali-kali aku berusaha menghapus kisah ini, namun entah kenapa bayangannya terlukis sangat pekat. Hingga akhirnya aku jadikan kisah ini sebagai kisah yang tak akan pernah aku lupakan dalam ingatan, sepanjang hidupku. Biarlah, sepanjang hidupku pula hatiku akan tetap menganga oleh sobekan luka yang kau gores dengan sembilu.

Saat ini, yang aku ingat hanyalah dalih janjimu yang sempat terdengar manis di telinga, namun entah kenapa kini janji itu telah banyak menumpahkan air mataku dengan percuma. Acap kali, air mata itu jatuh dengan sendirinya tanpa perlu mengingat akan kepergianmu. Sebutir air mata yang tertenun, mendatangkan seribu kesedihan bagiku. Sedangkan sudah beribu-ribu butir air mata yang telah meluap dari tempatnya, dan aku yakin engkau dapat menghitung sudah berapa banyak kesedihan yang engkau sayatkan dengan rasa tak berdosamu.

Engkau pernah berkata, akan kembali setelah pergi. Lalu sebenarnya untuk apa engkau pergi ? Apakah niatmu hanya untuk melihat kesetianku dalam menunggumu ? Kalau begitu, sudah aku buktikan kepadamu. Bahkan hingga kini, hingga ucapanmu tak kunjung datang aku tetap setia menunggumu. Dan kini aku baru sadar dengan permainan katamu, yang terkadang memberikan kepercayaan, lalu meninggalkan kepedihan. Yang terkadang memberikan harap, lalu menjatuhkan. Terimakasih, telah peduli lalu pergi. Terimakasih pernah menghibur lalu kabur. Terimakasih pernah mendekat lalu menjauh. Terimakasih.

Aku fikir, aku dan kamu bagaikan sepasang hitam putih diantara piano, yang terdengar indah saat kita mulai memainkannya. Namun ternyata kita salah memainkan lagu, hingga kini yang terdengar hanyalah sebuah tangis menjerit, dan saat kamu pun mendengar suara tersebut, sesungguhnya itulah suara tangisku. Dan diantara selip tangis itu terdengar sebuah tawa, dan aku yakin itulah suara tawa bahagiamu.

Dulu, saat pertama kali aku diperkanalkan denganmu, secara perlahan aku mulai merindukanmu, tersenyum sendiri saat mengingatmu, dibuat gila oleh rasa cintamu, hingga pada akhirnya secara perlahan pula air mataku jatuh terurai. Aku tak pernah menyangka, jika seorang yang berparas bidadari mampu menyayatkan sembilu dihati orang yang pernah ia berikan harap dan janji.

Kini harapku bagai api yang terus menyala meski air tak henti menyiram. Kini rinduku bagai sedang melukis diatas air lautan. Sia-sia dan percuma. Bagiku tidak, karena ku ikhlas menunggumu dalam kesedihanku, jika tidak mungkin aku telah mati.

Kini aku mensajakkan puisi dalam gambaran perasaanku; Halus lembut membalut buluh penguat rongga, penahan penggerek batang. Penopang terpaan angin-angin liar meliuk mengikuti pusaran, tegar tak patah.
Kau cabiklah...! maka, ketajaman tak terperi mengoyak jiwa, tetesan darah mengalir seiring jeritan hati, pedih.
Hmmm... sembilu adalah kata berirama senada goyangan lidah. Jagalah dia, agar tak lepas dari sangkarnya. Banyak sudah darah bersimpah ketika sembilu tak lagi membalut bambu. 
                                      

Ku mohon jangan pernah lupakan saat kita bersama, kamu yang tersenyum saat kita saling memandang sebelum berpisah. Aku mencintaimu, dan aku sadar kalau engkau sudah tak lagi mencintaiku. Kesadaranku itulah yang akan membuatku menundukkan kepala, lalu memutar badan dan melangkahkan kaki untuk segera menjauh darimu. Namun dengan segala kehangatan, jika engkau inginkanku kembali, bisakah engkau mengatakan kalau engkau tak akan menyakitiku ? 

Dari : Korban kepakan sayapmu

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

1 komentar: