Senin, 02 Februari 2015

Air Susu, Ku Balas Air Tuba

Untuk : Emak

Teruntuk Emak ku sayang, anakmu sampaikan maaf jika tak bisa meluapkan perasaan ini langsung di sujud kakimu, melainkan melalui sepucuk surat ini. Semoga tak mengurangi rasa hormatku untukmu, Emak.

Emak, anakmu sedang baik-baik saja di tanah rantau, doakan agar aku bisa pulang membawa ilmu yang bermanfaat kelak. Agar aku bisa tebarkan manfaat di kaki pertiwi. Aku harap Emak juga dalam keadaan baik-baik saja, dan masih dapat tersenyum saat membaca sepucuk surat dariku ini.

Lewat sepucuk surat ini, aku ingin menyampaikan rasa bersalahku selama ini Mak, dan diiringi dengan permohonan maaf yang entah apa itu dapat melebur rasa sakit hatimu yang diperbuat olehku. Dalam agama, disebutkan bahwa ‘Ridha Tuhan selalu beriringan dengan Ridha orang orang tua’ Sebab itulah aku selalu berharap Ridha darimu, Mak.

Kemarin, waktu aku pulang dari kampus, aku lewat di depan sebuah rumah yang ramai dikunjungi orang. Rupanya si pemilik rumah meninggal dunia. Aku melihat seorang wanita muda, mungkin seumuran denganku, ia sedang menangis menjerit di samping keranda yang tertutup kain hijau. Aku coba untuk berhenti sebentar, ternyata yang sedang meninggal itu adalah Ibunya.

Betapa teririsnya hatiku, saat aku dengan jelas mendengar tangisan dari wanita tersebut, sambil berkata.
“Mama ! Jangan tinggalkan Nidia, Nidia belum sempat minta maaf sama Mama ! Nidia masih banyak salah sama Mama ! Bangun Ma,  bangun Ma !”

Seketika itu juga, aku teringat denganmu, Mak. Aku dapat merasakan rasa penyesalan yang terwajah pada wanita itu. Akhirnya aku segera pulang, hatiku mulai merasa tak enak. Dengan sendirinya pikiranku membayangkan, jika seandainya yang terjadi dengan wanita itu, juga terjadi pada diriku. Demi Tuhan, aku juga akan merasakan hal yang sama !

Sesampainya di tempat kost, aku membanting tasku ke atas kasur, kemudian aku ambil selembar kertas, dan sebuah pena dari dalamnya. Aku mulai merajut kata untuk mengisi surat ini untukmu, Mak. Entah kenapa, tanganku tak bisa berhenti bergetar saat akan menggerakkan penaku. Hatiku bergeming, mengingat akan dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini kepadamu, Mak.

Aku minta maaf, Mak ! Sikapku telah menyakitimu, melukaimu, bahkan membuatmu menangis !

Seandainya Emak ada di sampingku, aku akan bersujud di kakimu dan berkata untukmu :
“Emak, maafkan aku ! Maafkan setiap tangis yang aku ciptakan di matamu, Mak. Aku berterimakasih kepadamu Mak, telah dengan ikhlas mengandungku, dan mengorbankan jiwamu saat melahirkanku. Aku dengar dari Bapak, bahwa ketika engkau melahirkanku, engaku tidak berdoa untuk keselamatanmu, tapi berdoa untukku. Terimakasih Emak !

Emak, aku tak ingin meniupkan benih kepedihan di hatimu lagi, aku tahu kalu itu adalah dosa besar, maka ampuni aku Emak. Aku sangat ingat betul dengan perjuanganmu untukku, bahkan engkau sering berbohong padaku hanya untuk memenuhi keinginanku.

Saat aku meminta untuk dibelikan sepatu baru, dengan ikhlas engkau menyanggupi, padahal aku tahu kalau engaku sedang tak memegang uang. Entah darimana engkau dapatkan uang sebanyak itu, hanya untuk membelikan sepatu untukku. Bagimu, kesenangan anakmu yang paling utama.

Tetapi, sepatu yang engkau belikan untukku ternyata tidak sesuai dengan seleraku, aku membantingnya, dan marah kepadamu karena aku anggap engkau tidak menuruti keinginanku. Lalu tanpa aku tahu, ternyata engkau menangis melihat sikapku, engkau menangis bukan karena sakit hati atas tingkahku, melainkan engkau menangis karena merasa belum bisa menyenangkan hatiku. Sekarang aku tahu, kalau ternyata aku banyak berbuat salah kepadamu, Emak. Aku menyesal Mak, aku benar-benar menyesal, dan kini aku sadar kalau ternyata aku telah membalas kebaikanmu dengan air tuba.”

Sekarang, aku tidak ingin menjadi orang yang menyesal seumur hidup, karena belum sempat meminta maaf kepada orang tuanya.

Maafkan anakmu, Mak. Jika lisan ini sering menghunus tajam ke hatimu. Jika sikapku sering membuatmu terluka, dan kecewa. Jika egoku sering mengalahkan nasehatmu. Jika tanganku tak sempat menengadah untuk mendoakanmu. Aku sungguh menyayangimu, Mak ! Terkadang bibirku kalut untuk mengatakannya saat ada di depanmu. Tapi jika aku pulang nanti, akan aku cium keningmu, dan akan aku peluk, lalu aku sampaikan, kalau aku benar-benar takut kehilanganmu. Akan aku doakan untukmu Mak, semoga Allah masih memberikan umur panjang, dan dapat menyaksikan kesuksesanku nanti. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Sampai surat ini selesai aku tulis, setitik air mata telah meninggalkan bercak diatas kertas bisu ini. Semoga aku selalu mendapat Ridhamu, juga Ridha Tuhan Ilahi.

Dari anakmu.

Jadilah pembaca setia gue, siapa tahu jodoh!

Reaksi:

2 komentar:

  1. Tiap hari jadi keterusan baca suratnya nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga setia membaca sampai genap 30 Hari :D Makasih :)

      Hapus